Empat isu pendidikan yang diusung Indonesia dalam G20 diapresiasi

Sedang Trending 6 hari yang lalu 1

Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20, Iwan Syahril menyampaikan empat isu di sektor pendidikan yang diusung Indonesia dalam forum G20 mendapat apresiasi dan sambutan positif.

"Alhamdulillah empat isu krusial ini didukung oleh negara-negara personil dan negara-negara undangan khusus, sehingga obrolan melangkah dengan baik," ujar Iwan dalam bincang-bincang "Pendidikan Berkualitas Hadapi Dunia Kerja Pascapandemi" yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan, isu pertama merupakan tentang universal quality education atau pendidikan berkualitas untuk semua.

Baca juga: Jubir G20: Bangun budaya mau belajar tetap jadi PR bersama

Ia mengatakan Indonesia menekankan pentingnya menguatkan komitmen untuk mencapai pendidikan berkualitas bagi seluruh dalam mencapai SDGs.

Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga menekankan komitmen melindungi kelompok-kelompok rentan terhadap learning loss. Indonesia mendorong negara-negara personil untuk memproteksi golongan ini.

"Di sini Indonesia mengajak negara-negara G20 untuk menguatkan komitmen, bukan saja untuk mencapai SDGs tapi juga agar melindungi golongan yang paling rentan secara global. Karena golongan ini dapat secara domestik tapi juga secara global," tuturnya.

Untuk isu kedua, ia menyampaikan, merupakan teknologi digital dalam pendidikan. Tema ini dipilih memandang disrupsi akibat pandemi yang terjadi, dimana banyak pemangku kepentingan, utamanya bidang pendidikan mulai mengadopsi teknologi.

Ia mengatakan Indonesia memandang pentingnya memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah akses, masalah kualitas dan masalah pemerataan pendidikan.

Isu ketiga, kata Iwan, ialah solidaritas dan kemitraan. Menurutnya, tema ini menjadikan keunikan presidensi Indonesia, karena Indonesia mengusung kearifan lokal merupakan "gotong royong" ke bumi internasional.

"Alhamdulillah kita didukung. Bahkan negara G20 di Education Working Group itu mengusulkan memasukkan gotong royong sebagai bagian dari deklarasi. Gotong royong menjadi salah satu frame work yang digunakan untuk pemulihan pendidikan," tuturnya.

Dan isu keempat, ia menyampaikan, merupakan seputar masa depan bumi kerja pascapandemi atau The Future Work Post COVID-19.

Baca juga: Diplomasi Indonesia di 1st HMM Yogyakarta

Ia menjelaskan, tema itu diangkat setelah memandang disrupsi yang terjadi semakin sigap dan masif selama pandemi COVID-19.

"Masa pandemi itu lebih mendisrupsi. Jadi revolusi 4.0 itu semakin terdisrupsi. Sehingga kita perlu memikirkan ulang bersama-sama bagaimana tentunya relevansinya bumi pendidikan untuk mempersiapkan SDM-SDM kita di masa mendatang," katanya.